5W1H Ambruknya Jembatan Seharga Rp 17 Miliar di Batola Kalimantan Selatan

loading...
loading...
Artikel Terbaru:
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:
Apa dan Di mana
Jembatan Tanipah di Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, ambruk.

Kapan dan Siapa
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Kuala, Ardiansyah, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (17/8/2017) sekitar pukul 11.20 Wita.
“Ambruknya Jembatan TANIPAH di Kec Mandastana Kab Barito Kuala pd hr kamis 17 Agsts 2017 sekitar Jam 11.20 WITA,” kata Ardiansyah seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (18/8/2017).

Mengapa
Ardiansyah memastikan, ambruknya Jembatan Tanipah bukan disebabkan oleh bencana alam. Menurutnya, jembatan tersebut ambruk karena tiang pancang utama ambles ke dalam sungai. Hal itu membuat bagian tengah lantai jembatan roboh.
“Dipastikan penyebabnya tidak karena bencana. (Jembatan) ambruk karena tiang pancang utama jembatan, posisi di tengah sungai ambles ke bawah, sehingga lantai jembatan lepas pada bagian tengah,” ujar Ardiansyah.

Kepala Humas dan Informasi Badan Nasional penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menggunggah foto kondisi jembatan sebelum dan sesudah ambruk melalui akun Twitter miliknya, Jumat (18/8/2017).
“Kondisi sblm & stlh jembatan roboh di Kec. Mandastana Kab Batola Kalsel. Jembatan dibangun Rp17 milyar thn 2015 patah akibat fondasi roboh,” tulis Sutopo.

Bagaimana
Menurut Ardiansyah, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Untuk membantu aktivitas masyarakat antar-desa, BPBD Kabupaten Barito Kuala menurunkan empat perahu polietilena.
“Waktu jembatan ambruk tidak ada korban jiwa karena pada saat itu tidak ada yang melintas. Untuk menolong masyarakat, terutama anak sekolah yang ingin menyeberang sungai, BPBD menurunkan perahu polietilena sebanyak 4 buah,” tutur Ardiansyah.

Dikutip dari Tribun Banjarmasin, Kamis (17/8/2017), Jembatan Tanipah menghubungkan dua desa, yakni Desa Bangkit baru dan Desa Tanipah.
Sementara ini, warga di dua desa terpaksa menggunakan kelotok atau memutar lewat desa lain.
"Harus sekitar empat kilometer memutar. Selain itu, akses lainnya tidak ada, kecuali pakai perahu kelotok," kata Basri, warga Desa Bangkit Baru, Kecamatan Mandasatana.

Diketahui, pembangunan Jembatan Tanipah menggunakan APBN-P pada tahun 2015 dan menyedot anggaran sebesar Rp 17.484.198.000. Hingga kini, patahnya Jembatan Tanipah masih diselidiki pihak terkait.

Sumber: kompas.com
loading...
Artikel Lainnya: